Profil Tokoh

Sholicah Munawaroh Wahid Hasyim, Tokoh Muslimat yang Dermawan

sholihah Munawaroh Wahid HasyimIbu Hj. Nyai Sholichah Munawaroh binti KH. Bisri Sansuri adalah keponakan KH. Wahab Hasbullah.   Ibunda Sholichah, Ibu Nyai Hj. Nur Chadijah adalah adik kandung KH. Wahab Hasbullah. Sebuah drama menarik seputar pernikahan wanita muda Chadijah dengan pemuda Bisri Sansuri, terjadi di atas sebuah geladak kapal, di pelabuhan Jeddah.

Syahdan, ketika Wahab Hasbullah muda yang energik sedang sibuk untuk mendirikan cabang Sarekat Islam di Arab Saudi, sampailah kabar kepadanya bahwa ibunya sakit, maka ia pun segera kembali ke tanah air. Beberapa bulan kemudian ia sudah merapat kembali di pelabuhan Jeddah. Namun kedatangannya kali ini disertai dengan ibunda dan seorang wanita muda, yakni adiknya yang bernama Chadijah, pengantin baru yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Kedatangannya bersama ibunya ke tanah suci adalah untuk menunaikan ibadah haji dan sebagai pelipur lara sang adik.

Mbah Maridjan Bangga Menjadi NU

KH Hasyim Muzadi dan Mbah MaridjanSelain dikenal sebagai juru kunci Merapi, Mbah Maridjan ternyata adalah Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Karena itulah, warga nahdliyin juga merasa kehilangan ikon Merapi itu.

Duka mendalam juga dirasakan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi seraya mengenang pertemuan terakhirnya dengan  Mbah Maridjan 2006 silam. "Mbah Maridjan terakhir saya jumpai di rumahnya pada tahun 2006 lalu," kata Hasyim Muzadi kepada, di pondok pesantren Al Hikam Depok, Rabu (27/10).

Saat bertemu Mbah Maridjan itu, Hasyim mengaku sempat memberi kenang-kenangan berupa jaket dengan tulisan dan logo NU. Bagi Hasyim, Mbah Maridjan layak mendapat kenang-kenangan itu, karena dia adalah Ketua NU desa setempat. "Saya memberikan beliau jaket bertuliskan NU, serta seperangkat alat salat. Beliau sangat gembira sekali," kenang Hasyim.

Saking senangnya, kata Hasyim, sambil menunjuk logo NU pada jaket tersebut, Mbah Maridjan tersenyum lebar seraya mengakui bahwa NU memang jam’iyahnya. “Nggih niki agomo kulo. Agomo kulo niku NU (Ya ini agama saya. Agama saya itu adalah NU),“ kata Hasyim menirukan ungkapan Mbah Maridjan.

Penasaran, Hasyim lantas balik bertanya kepada Mbah Maridjan, “Sanes Islam, Mbah?  (Bukannya Islam, Mbah?).“Nggih sami mawon  (Ya sama saja),” jawab Mbah Maridjan sambil tertawa.

Sekjen ICIS ini kemudian teringat pesan Mbah Maridjan yang disampaikan dalam bahasa Jawa dalam pertemuan itu.  “Saya menjadi ingat pesan beliau dalam bahasa Jawa; penjenengan sak konco poro piageng kendah "temen lan sek temene lan sek temene" mugi ndonyane tentterem (Pak Hasyim dan para pembesar harus benar dan bertindak sebenarnya agar alam tentram).

Hasyim mengatakan, Mbah Maridjan yang dikenalnya adalah sosok yang sederhana, meskipun ia sebenarnya punya pengahasilan cukup setelah menjadi bintang iklan sebuah produk minuman. “Uang Mbah Maridjan dari hasil sebagai bintang iklan, selain dibuat untuk memperbaiki rumahnya, juga diperuntukkan untuk membangun mesjid.

Ketika aktifitas Merapi mulai meningkat dalam sepekan terakhir, Hasyim tiba teringat pertemuannya dengan Mbah Maridjan 2006 lalu. Hasyim lantas membuat rencana bertemu dengan abdi dalem Kraton Yogyakarta itu.

Melalui Fahmi, rekan KH Hasyim Muzadi di PWNU Yogyakarta, Mbah Maridjan meminta Hasyim berangkat ke Cangkringan, rumahnya.  "Saya menelfon teman saya bernama Fahmi, seorang pengurus NU Yogyakarta. Agar, menyampaikan keinginan saya ketemu beliau (Mbah Maridjan). Saya sendiri tidak tahu, kenapa saya ingin segera bertemu beliau," ujarnya.

Hasyim pun telah memesan tiket pesawat untuk berangkat ke Yogyakarta dan menuju.  "Belum kesana, ada berita beliau meninggal dalam keadaan sujud. Hari ini Mbah Maridjan menyerahkan diri kepada Allah dalam keadaan sujud. Seakan memberitahukan kita bahwa hanya sujud kepada Allah yang bisa dan harus kita siapkan menghadapi segalanya, karena tak mungkin melalui rekayasa kita," Hasyim mengingatkan.

Hasyim kemudian menghimbau kepada seluruh ummat Islam untuk melakukan sholat gain untuk korban Merapi dan Tsunami Mentawai. “Dengan harapan, para korban mendapatkan khusnul khotimah, termasuk Mbah Maridjan,” kata Hasyim.mil

Mutiara Hadits

Jalan menuju Sorga

Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshari r.a menerangkan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ia berkata, "Bagaimana pendapatmu, jika aku telah mengerjakan shalat maktubah (shalat fardhu lima waktu), berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram dan aku tidak menambahnya dengan suatu apapun. Apakah aku bisa masuk surga?" Beliau menjawab, "Ya." (HR Muslim)