Muslimat : Perlu Rekonstruksi Makna Jihad

alt

 

SEMARANG-Pengurus PW Muslimat Jawa Tengah, Nur Hasanah, mengatakan, perlu dilakukan rekonstruksi makna jihad agar masyarakat tidak terjebak dalam aliran terorisme yang merugikan masyarakat.

Hal itu diungkapkan Nur Hasanah pada acara pembentukan dan pelantikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, di Hotel Novotel, Semarang, Jumat (12/10). Kegiatan tersebut terlaksana berkat kerjasama Muslimat NU dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Istilah radikal dan terorisme dalam sepuluh tahun terakhir ini telah menjadi problem kebangsaan di Indonesia. Berbagai aksi teror bom tidak semata tempat ibadah dan lokasi pariwisata, namun melebar pada fasilitas publik perkantoran, menyerang aparat keamanan, juga melukai diri sendiri, seperti bom bunuh diri,” terangnya.

Nur Hasanah menambahkan, dalam penelitian DR. Carl Ungerer dari Australian Strategic Policy Institute, telah menyimpulkan, bahwa dari 33 terpidana terorisme Indonesia yang diwawancarai dalam risetnya, 30 persen tidak mempan dengan program deradikalisasi. Mereka akan tetap melanjutkan jihad globalnya melawan Negara Barat dan pihak-pihak yang dianggap sebagai pihak aliansi.

Dalam penelitian lain, katanya, terorisme tidak disebabkan faktor tunggal, namun merupakan akumulasi dari sebab-sebab yang menumpuk yang meliputi faktor sosial, politik, ekonomi, pemahaman (tafsir) agama dan budaya.

Selama ini, jelasnya, upaya yang dilakukan pemerintah terhadap pelaku teroris adalah pendekatan Hard Approach, yakni menempatkan penegakan hukum sebagai satu- satunya jalan keluar. Seperti halnya dalam teori ilmu kesehatan, untuk menghindari penyebaran penyakit menular, maka faktor intinya yakni virus harus dikarantina.

“Hard Approach dalam penanganan terorisme harus dilihat sebagai upaya “mengkarantina” virus teror agar tidak menyebar luas dan sel- sel terornya dapat terputus,” katanya.

Selain upaya Hard Approach, lanjutnya, upaya pencegahan tindakan teror harus segera dilakukan oleh semua elemen masyarakat. Upaya tersebut harus dilakukan secara holistik dan secara terkoordinasi dengan baik dan terpadu antar elemen masyarakat. Upaya inilah yang disebut dengan Soft Approach. 

“Pada upaya Soft Approach, hal penting yang harus segera dilakukan adalah terkoordinasinya semua instansi-instansi terkait, kelompok masyarakat seperti lembaga sosial keagamaan, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, jurnalis, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia pesantren dalam semua upaya pencegahan terorisme,” jelasnya.mil

Mutiara Hadits

Menyingkirkan kemungkaran

"Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran hendaklah ia merubah dengan tangannya; bila ia tidak mampu, maka dengan lisannya; dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman." (HR Muslim)