banner.jpg

Ihtiar Muslimat NU dalam pendidikan Nasional

Oleh : Dede Nuripah

Kontradiksi memang lekat dengan kehidupan bangsa ini. Salah satunya kontradiksi dalam bidang pendidikan. Sebelum pemberlakukan amanat UU Sisdiknas khususnya tentang porsi 20% anggaran pendidikan, semua pihak mengeluh tentang buruknya infrastrktur pendidikan, mahalnya biaya pendidikan, kurangnya tenaga pendidik, dan distribusi sekolah yang tidak merata serta kesenjangan antar lembaga pendidikan.

Sekarang, 20% APBN sudah dialokasi untuk bidang pendidikan. Tetapi masih saja berbagai persoalan mencuat sebagaimana masa lalu.
Lihat saja, sampai saat ini telah tersedia 2,7 juta guru, dari jumlah tersebut sebanyak 1,5 juta atau 57,4 persen diantaranya belum berkualifikasi sarjana atau diploma 4 belum lagi kompetensi dan kualifikasi guru sangatlah beragam. (kompas:2011).

Lain cerita di berbagai daerah, seperti di kota padang, hingga oktober 2011 membutuhkan 549 guru jumlah ini ideal dengan rasio jumlah murid di kota padang yang berjumlah 110.043 dari 417 SD, begitupun halnya yang terjadi di Papua. Pada September 2010 menyatakan bahwa Papua kekurangan 7000 guru SD (kompas:2010).

 

Hal lain juga terjadi pada sarana dan prasarana pendidikan nasional.Gambaran bangunan sekolah di ibu kota Jakarta seakan mencerminkan sekolah di pelosok daerah lain di Indonesia. Sekolah yang rusak di DKI Jakarta tercatat sebanyak 2.531 sekolah meliputi SD, SMP, SMK. Kemendibud M.Nuh menegaskan kerusakan sekolah terjadi tidak hanya di Jakarta tetapi juga terdapat dihampir seluruh wilayah Indonesia, sebanyak 132.000 sekolah rusak berat dan rusak sedang 180.000. (Rakyat Merdeka:2012).

 

Semua ironi itu, seolah mengatakan bahwa cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, hanyalah utopi ditengah dominasi hiruk-pikuk politik praktis dan korupsi. Al hasil, pendidikan yang seharusnya menjadi pintu masuk menuju negara Indonesia sejahtera, tereduksi sedemikian rupa, sehingga pendidikan tak ubahnya upaya formalisasi “ijasah” untuk mendapatkan syarat mencari pekerjaan.

Pentingnya Pendidikan Dalam Islam

Berabad-abad sebelumnya, pentingnya pendidikan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan  telah diamanatkan kepada kita, sebagai syarat utama dalam pencerdasan untuk mewujudkan kemajuan peradaban manusia. Dalam kitab suci Al-Quran spirit berilmu pengetahuan bagi manusia disampaikan dalam surat AL-Mujadalah: 11 yang artinya: “ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Hadits Nabi mengatakan bahwa : “Mencari ilmu adalah Kewajiban Setiap Muslim” (HR. Ibnu Majjah). Ada pula petuah Imam syafii; “Barang siapa yang menginginkan dunia maka harus dengan ilmu, barang siapa yang menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu dan barang siapa menginginkan keduanya maka harus dengan ilmu”.

Evaluasi dan Peran Muslimat NU

Komitmen pemerintah terhadap sektor pendidikan sebenarnya sangat kuat. Hal ini bisa dibuktikan dengan amanat mencerdaskan bangsa dalam pembukaan UUD 1945, serta alokasi 20% APBN untuk sektor pendidikan. Komitmen ini, kemudian dikongkritkan dalam lima komponen proses pendidikan yang harus disediakan pemerintah, yakni : kurikulum, guru, metode, sarana dan prasarana, evaluasi.

Kesenjangan dan disparitas antar lembaga pendidikan menyangkut lima komponen tersebut di atas, khususnya yang ada di Jawa dan di luar Jawa, cukup memberikan bukti, bahwa pemerintah belum bisa melaksanakan standar pendidikan layak secara menyeluruh dan merata. Untuk itu, diperlukan keterlibatan pihak lain, seperti Ormas, LSM, Tokoh, serta komponen masyarakat lainnya untuk bersama-sama mengembalikan spirit pendidikan nasional sebagai pintu menuju kesejahteraan Indonesia. Karena jelas, bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab semua komponen bangsa.

Muslimat NU melihat bahwa persoalan yang melilit dunia pendidikan kita, perlu adanya ikhtiar bersama dalam pembenahan pendidikan nasional. Hendaklah menjadi renungan bagi kita semua, apa yang harus diperbaiki oleh pemerintah dalam pengelolaan sistem pendidikan nasional kita dan apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara?.
Muslimat NU sebagai organisasi perempuan Nahdiyin yang dipimpin oleh Ibu Hj. Khofifah Indarparawansa memiliki perhatian yang sangat besar terhadap carut-marut persoalan pendidikan nasional, karena dirasa dapat mengancam kualitas hidup generasi yang akan datang.

Salah satu bentuk ikhtiar-nya  adalah, dengan membantu peningkatan mutu pendidikan nasional yang dirancang khusus dengan  melakukan  gerakan pemberdayaan dan pelayanan umat secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Karena dipahami mengurai benang kusut persoalan pendidikan tidak cukup hanya dengan satu jari tapi dengan banyak jari bahkan kedua tangan. Maka Muslimat NU dalam ihtiarnya tercermin dalam pokok-pokok program pemberdayaan dan pelayanan umat dari berbagai bidang yang dapat memacu laju pertumbuhan perekonomian masyarakat sehingga dapat meningkatkan daya jangkau masyarakat terhadap fasilitas dan pelayanan pendidikan yang berkualitas.

Dalam program ekonomi, Muslimat NU melakukan pemberdayaan kemandirian ekonomi masyarakat khususnya perempuan. Dengan harapan dapat mendorong percepatan kemandirian ekonomi, maka strategi membangun kerjasama dengan kalangan profesional, pengusaha, pemerintah dan non pemerintah dilakukan oleh Muslimat NU.

Kegiatan kemandirian ekonomi masyarakat khususnya perempuan dilakukan dengan dua strategi, yakni : pertama  melakukan Pemberdayaan kepada masyarakat khususnya perempuan  melalui pelatihan-pelatihan yang bertujuan memberikan keahlian atau kecakapan hidup, kedua pendirian KOPERASI, yang bertujuan dapat mendukung kegiatan perekonomian masyarakat melalui sistem simpan pinjam di KOPERASI.

Dengan asumsi dasar bahwa ketika masyarakat atau perempuan memiliki keahlian atau kecakapan hidup, maka dapat melakukan kegiatan ekonomi yang dapat membantu penghasilan keluarga secara mandiri dengan memperoleh dukungan pengelolaan keuangan dari KOPERASI dengan sistem simpan pinjam. Program ini diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan di seluruh Indonesia dengan ikhtiar kader-kader MUSLIMAT NU yang telah tersebar di setiap provinsi dan melahirkan pelaku-pelaku ekonomi yang mandiri.
Melihat pentingnya pendidikan sebagai proses pencerdasan generasi penerus bangsa, Muslimat NU melakukan konsentrasi penuh terhadap pendirian dan pemberdayaan pelayanan pendidikan pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ini adalah sebuah pilihan terhadap peran Muslimat NU dalam bidang pendidikan karena PAUD yang notabene adalah jenjang sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar, menjadi bagian integral untuk menciptakan karakter pendidikan pada anak sejak se-dini mungkin. Dalam proses kegiatan belajar dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan melalui permainan yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan mental dan fisik anak.

Dengan men-stimulasi saraf motorik halus dan saraf motorik kasar  agar dapat berfungsi dengan baik,  melatih anak agar dapat bergaul dalam lingkungan sosial dan memberikan pengenalan bahasa dan komunikasi yang baik, membantu menstimulasi kecerdasan, daya pikir sejak dini. Jika semua aspek itu di penuhi pada masa anak usia dini, maka di saat memasuki jenjang tingkat dasar anak sudah memiliki kesiapan dalam penyerapan pendidikan berbasis kurikulum sistem kelas di jenjang Sekolah Dasar.

Temuan mutakhir pada abad kini tentang penerapan pendidikan anak usia dini sebetulnya telah di sampaikan berabad-abad sebelumnya oleh Rasulullah. SAW  “tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat” yang artinya bahwa pendidikan sangat baik dilakukan pada usia dini, karena pada masa itulah pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak anak sedang pesat, sehingga penyerapan terhadap pengalaman pertama dalam hidupnya dilakukan dengan maksimal, maka nilai-nilai karakter yang baik dalam kehidupan, kemampuan berkomunikasi dan bahasa yang baik dalam bersosialisasi akan sangat membantu bagi perkembangan mental anak di masa yang akan datang.

Kiprah Muslimat NU dalam menjalankan komitmennya terhadap pendidikan nasional khususnya PAUD, pada saat ini tercatat dengan telah berdirinya PAUD di bawah naungan Muslimat NU sebanyak 5000 PAUD tersebar  di seluruh 526 cabang Muslimat NU di 33 propinsi, yang meliputi TK, RA, TPA, KB, TPQ. Pengembangan PAUD Muslimat NU terus dilakukan dengan program pemberdayaan dan peningkatan pelayanan pendidikan PAUD yang bertujuan memberikan pelayanan pendidikan PAUD yang terjangkau dan berkualitas.
Serangkaian kegiatan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan secara merata untuk meningkatkan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan PAUD di bawah naungan Musliamt NU. Begitupun dalam pelayanan peningkatan pendidkan yang terjangkau dan berkualitas Muslimat NU menentapkan target penambahan pendirian PAUD sebanyak 15.000 PAUD dalam rancangan program kerja lima tahun kedepan, sehinnga dapat terbentuk PAUD sebanyak 20.000 dibawah naungan Muslimat NU.

Pendidikan menjadi pintu masuk Indonesia menuju negara sejahtera dan makmur atau pada cita-cita yang lebih tinggi, bahwa pendidikan adalah pintu masuk Indonesia menjadi negara maju. Maka untuk mewujudkan cita-cita tersebut membutuhkan kemauan untuk berperan serta bagi segenap masyarakat, untuk mendorong pendidikan nasional menjadi terjangkau dan berkualitas. Walaupun carut marut persoalan pendidikan di Indonesia bagai benag kusut tapi Jika kita yakin dan beriman kepada ALLAH . SWT marilah kita ihtiar bersama karena Rasulullah SAW pernah bersabda “ Berusahalah maka niscaya Allah akan mengabulkan usahamu”.

* Penulis adalah Anggota Bidang Pendidikan PP Muslimat NU


Mutiara Hadits

Istiqamah dan Iman

Abu Amr Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafy r.a berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu ungkapan tentang Islam yang tak akan kutanyakan kepada seorang pun selain engkau!. Beliau bersabda, 'Katakan, "Amantu Billah" (aku beriman kepada Allah), kemudian istiqamah-lah' ." (HR Muslim)