Tahlil Dan Aksi Sosial Pedesaan

Oleh : Susianah Affandy

(Pengurus PP Muslimat NU)

Tahlil adalah salah satu ritual yang tidak asing bagi warga NU pedesaan. Ditilik secara kebahasaan, kata tahlil memiliki dua arti yakni “pengucapan la ilaha illallah” dan “ekspresi kesenangan” atau “ekspresi keriangan”.  Umat Islam Indonesia memaknai tahlil pada definisi pertama. Kegiatan tahlil yang meliputi pembacaan yasin, ayat kursi, lantunan tasbih, tahmid dan istighfar memiliki keterikatan dengan struktur social khususnya masyarakat pedesaan. Tahlil bagi masyarakat pedesaan memilliki makna religious dan makna sosial pedesaan.

Dzikir Kematian


Ritual tahlil biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga di masyarakat. Bagi masyarakat di Jawa Timur misalnya, ritual tahlilan ada yang dilakukan sejak hari pertama wafatnya anggota keluarga selama tujuh hari berturut-turut. Tahlil juga dapat diselenggarakan setelah tiga hari kematian (nelung dino), kemudian dilanjutkan pada hari ke tujuh (mitung dino). Pada empat puluh hari kematian pihak keluarga biasanya juga menyelenggarakan tahlil kembali (matang puluh), dilanjutkan dengan pelaksanaan tahlil di hari ke-100 (nyatus). Setelah melewati hari ke-100, anggota keluarga menyelenggarakan ritual tahlil kembali pada peringatan haul (1 tahun) kematian dan diakhiri dengan tahlil di hari ke-1000 (nyewu).

Menurut Syaukanie (2010), kalangan Islam tradisional di pedesaan meyakini adanya prosesi perjalanan yang harus dilalui oleh seseorang setelah kematiaannya. Prosesi pertama adalah ujian di liang kubur. Pada prosesi ini seorang hamba akan ditanyakan seputar keimanan oleh Malaikat (man rabbuka = siapa tuhanmu, man nabiyuka = siapa nabimu dan lain sebagainya). Usai prosesi ini dilalui,  seorang hamba akan melewati “jembatan lurus” (sirathal mustaqim). Gambaran sirathal mustaqim dijelaskan seperti helai ramput dibelah tujuh. Di bawah jembatan yang panjangannya tak bisa dipikirkan manusia itu adalah bara api yang suhunya melebihi permukaan matahari, itulah neraka jahanam.

Adanya prosesi pasca kematian tersebut, tahlilan dan kirim doa oleh sanak keluarga yang ditinggalkan dimaksudkan memperingan perjalanan menuju persinggahan terakhir. Kaum muslim tradisional berpegang pada hadist nabi yang menyatakan bahwa ketika seorang hamba meninggal dunia maka semua amal ibadah akan terputus kecuali doa anak sholeh.

Kaum Muslim tradisional mencoba memperingan perjalanan orang yang meninggal dengan cara memberi bantuan amal saleh berupa bacaan-bacaan dan doa-doa dalam Tahlilan. Dengan kata lain, Tahlilan adalah upaya untuk memperingan perjalanan orang yang meninggal menuju persinggahan terakhir.

Kegiatan yang turut mengiringi tahlil adalah ziarah kubur. Baik tahlil maupun ziarah kubur, kedua ritual tersebut biasanya digunakan oleh masyarakat sebagai medium refleksi dan evaluasi diri. Bahwa semua makhluk yang bernyawa di dunia ini akan mengalami kematian. Bahwa kematian adalah pintu masuk kehidupan baru. Ibarat kita bepergian jauh, pun dengan kematian juga harus dipersiapkan.

Dari Tahlil ke Aksi Sosial

Sosiolog asal Jerman Emile Durkheim jauh-jauh hari telah mengkosolidasikan tesisnya tentang agama dan solidaritas social dalam ranah ilmu social. Jika dilihat dari proses ritualnya, tahlil dapat dikategorikan seremonial keagamaan seperti dimaksudkan oleh Emile Durkheim. Ketika penulis melakukan studi lapang di daerah Kabupaten Jombang Jawa Timur (Januari 2012), ritual keagamaan dalam tradisi tahlil dalam perjalanannya telah membuahkan aksi social. Ritual tahlil merekatkan setiap anggota masyarakat. Dalam term sosiologi kerekatan disebut solidaritas, terbentuk atas dasar perasaan moral, keyakinan serta pengalaman emosional yang sama.

Tiap kali mendengar kabar kematian, secara sepontanitas anggota masyarakat pedesaan “melayat” dan dilanjutkan pada malam harinya dengan acara “tahlilan”. Berbondong-bondong masyarakat datang ke keluarga yang anggotanya meninggalnya dunia. Mereka datang dengan membawa hasil bumi. Dari bahan-bahan mentah, anggota masyarakat memasak secara bersama-sama untuk suguhan para pelayat dan jama’ah yang ikut tahlil di malam hari. Di beberapa tempat bahkan tidak sedikit anggota masyarakat yang membawa makanan siap saji, ada kue dan juga lauk pauk. Ada semacam “sangsi social” jika hal ini dilanggar. Dalam konstruk fungsionalisme structural, ritual tahlil telah membentuk semacam norma yang mengikatkan anggota masyarakat. Selain takut adanya “sangsi social”, budaya spontanitas muncul juga didasarkan karena menyadari bahwa di waktu yang lain mereka akan mengalami kematian. Ada pengharapan yang tinggi akan adanya aksi timbal balik jika ada di antara anggota keluarga meninggal dunia.

Ritual tahlil dalam beberapa komunitas telah membentuk semacam kelembagaan lokal. Bahkan di daerah Jombang Jawa Timur, kegiatan tahlil tidak semata dilakukan untuk waktu-waktu tertentu seperti termaktub di atas. Kelembagaan tahlil menjadi bagian dari kehidupan social masyarakat. Tahlil qubro misalnya, acara ini dilaksanakan setahun sekali oleh ribuan jama’ah majlis ta’lim. Dalam pelaksanaan tahlil qubro, setiap jama’ah menyumbangkan rizkinya. Tidak ada patokan dalam besaran uang sumbangan. Besaran minimal sumbangan yang diberikan anggota masyarakat ketika studi lapang ini dilakukan adalah Rp. 1000,-. Tidak ada inisiator dalam kegiatan tahlil qubro kecuali anggota masyarakat yang mempercayakan Muslimat NU sebagai organisasi social keagamaan sebagai fasilitator yang mengumpulkan ribuan umat Islam dalam ritual pembacaan doa-doa tahlil.

Bak rapat akbar, ritual tahlil qubro menjadi momentum gerakan social. Dana yang terkumpul dari sumbangan suka rela diserahkan langsung oleh masyarakat secara simbolis untuk pembangunan fasilitas public. Ketika studi lapang dilakukan, ada dua fasilitas publik yang telah terbangun yakni Rumah Sakit Nahdlatul Ulama dan Panti Asuhan, keduanya berdomisili di Kabupaten Jombang Jawa Timur. Kedua fasilitas public tersebut di bangun di atas tanah yang juga didapatkan dari sumbangan (wakaf) anggota masyarakat. Dari sini kita dapat belajar, kuatan social dalam ritual tahlil kini tak lagi digandrungi oleh muslim tradisional pedesaan semata. Dengan tajuk yang berbeda seperti “tabligh akbar” atau “istighosah akbar” kini banyak dijumpai di perkotaan. Prosesi ritual yang dilaksanakan sama, hanya apakah tujuannya sama atau tidak dengan ritual tahlil pedesaan, wallahu’alam bish showab.***

Mutiara Hadits

Mendamaikan orang dengan adil

Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan shadaqahnya setiap hari ketika matahari terbit.

Selengkapnya...