Kiprah Perempuan Muslimah dalam Sejarah Islam

JAKARTA-Muslimat NU adalah Ormas Islam yang tidak hanya berkiprah di kalangan pesantren, tetapi juga di berbagai lini termasuk  bidang akademik. Hal ini terlihat ketika peringatan Hari Kartini yang diperingati tiap tanggal 21 April di Indonesia.

Terkait itu, Pusat Studi Wanita UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pusat studi yang mendiskusikan berbagai permasalahan dan kontribusi perempuan, dan IKPM (Ikatan keluarga pondok Modern) Gontor cabang Jakarta bekerjasama mengadakan seminar peringatan hari Kartini pada tanggal 23 April 2011 lalu.

Seminar yang bertemakan “Pesantren dan Peran Perempuan di Era Globalisasi’ ini,  diangkat oleh IKPM Gontor cabang Jakarta guna melihat dan memberikan pemahaman pada semua pihak, bahwa perempuan tidak hanya berada pada ranah domestik, tetapi juga berhak untuk masuk pada ranah publik seperti yang di cita-citakan dan diperjuangkan oleh Kartini.
Kiprah perempuan dalam masa kini pun terlihat di berbagai bidang mulai dari pengusaha, dosen, aktifis serta ibu rumah tangga yang mandiri dengan melakukan bisnis online dari rumahnya.

Acara yang diadakan di Ruang Diorama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menghadirkan beberapa narasumber. Diantaranya adalah ketua umum Muslimat NU, yang juga tokoh perempuan alumni Pesantren yaitu Khofifah Indar Parawansa, Cendekiawan Muslimah dan Tokoh Perempuan, Marwah Daud Ibrahim dan Dosen Politik FISIP UI serta aktifis dan pemerhati perempuan, Chusnul Mar’iyah.

Dalam paparannya tentang “Peran Perempuan Alumni Pesantren di Kancah Nasional”, Khofifah mengatakan, bahwa jauh sebelum perjuangan Kartini, Islam sudah mempunyai tokoh perempuan yang gigih, yaitu perjuangan Siti Hajar untuk mempertahankan kesinambungan hidup anaknya dalam bentuk lari kecil dari bukit Shafa ke Marwah dan sebaliknya.

Paparan Khofifah mengenai kegigihan Siti Hajar juga dituliskan oleh salah satu media cetak Republika. Sebagai contoh untuk semangat perempuan di masa depan, khususnya di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim. Berbagai bidang pun digeluti oleh perempuan di era  globalisasi sebagai tanda diakuinya kiprah perempuan  di dunia publik. Termasuk penguasaan bidang bahasa Arab sebagai bahasa umat Islam.

Sebagai alumni pesantren, Khofifah juga menyatakan kekhawatirannya terhadap pengadopsian bahasa Arab oleh orang non muslim dalam konferensi sedunia yang diadakan di Roma.
Selain itu, pengadopsian istilah bahasa Arab yang sudah baku    dipakai   oleh orang Muslim seperti istilah  Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) perlu diperhatikan.

Sebagai tokoh perempuan alumni pesantren, Khofifah mengharapkan kesadaran dari berbagai pihak baik kalangan pemerintah khususnya Departemen Agama, maupun masyarakat pada umumnya. Pesantren dan juga berbagai kalangan Akademisi, LSM dsb untuk mencermati masalah pengadopsian bahasa Arab ini oleh golongan non muslim. Yani'ah Wardani/mil

Mutiara Hadits

Berakhlak baik

Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling aku sukai dari kalian dan orang yang paling dekat kedudukannya dari kalian denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling baik akhlaqnya dari kalian." (HR Tirmidzi)